Sebelum saya masuk kuliah, saya sempat tergila-gila dengan salah satu seri novel karya C.S. Lewis yang berjudul The Chronicles of Narnia. Lewis menjadi salah satu pelopor literatur eskapisme karena seri novelnya yang satu ini membawa pembaca ke dunia lain yakni Narnia.
Fantasi selalu menjadi bahan bagi kita untuk melarikan diri dari dunia nyata menuju dunia imajinasi, dunia yang jauh lebih baik pada pemandangan kita. Bahkan, Lewis sendiri pernah berkata bahwa satu-satunya orang yang membenci yang membenci fantasi adalah penjaga sel penjara, karena mereka tidak mau orang-orang merasa bebas.
Ketertarikan saya terhadap karya Lewis inilah yang mendorong saya untuk menuliskan karya yang serupa. Saya sudah pernah membuat beberapa draf dengan cerita yang mirip dengan novel Lewis. Seorang anak atau beberapa anak menemukan suatu dunia lain kemudian mereka harus melewati berbagai tantangan, mempelajari nilai-nilai moral, lalu kembali ke dunia mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun, usaha saya kurang memuaskan. Saya sadar bahwa saya tidak sedang membuat karya orisinal, melainkan menjiplak Lewis. Sepanjang masa perkuliahan saya, saya mencoba untuk membangun cerita di kepala saya, namun dengan plot yang berbeda dari Narnia.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa The Chronicles of Narnia merupakan cara Lewis untuk mengkomunikasikan iman Kristen lewat cerita anak-anak. Maka, dengan tujuan serupa, saya akhirnya menemukan inspirasi dari media lain untuk memulai jalannya cerita saya, yakni Alkitab. Saya memakai perumpamaan Yesus sebagai inspirasi lainnya, terutama perumpamaan tentang talenta dan perumpamaan tentang hamba yang jahat. Kedua perumpamaan ini sama-sama berfokus pada perginya seorang pemimpin (dalam perumpamaan ini Kristus adalah Raja dan Tuan), hamba-hamba dipercayakan untuk mengurus rumah atau kerajaan, dan akhirnya sang pemimpin kembali untuk memberi penghakiman.
Maka, saya pun membuat alur cerita yang serupa. Seorang raja pergi meninggalkan kerajaannya untuk sementara waktu. Dia memercayakan talenta (dalam hal ini bukan uang tetapi kekuatan) kepada hamba-hambanya. Ada hamba yang jahat dan ada hamba yang baik. Perbedaannya adalah dalam novel pertama saya sang raja tidak kembali.
Saya mulai memikirkan kekuatan masing-masing orang yang dipercayakan dan mencari nama yang bagus untuk kelompok orang yang dipercayakan oleh raja ini. Saya akhirnya memberi nama "The Four Corners". Namun, di kemudian hari, karena saya ingin semua nama di dalam novel saya terdengar seperti nama-nama lokal, saya memberi nama "Lokapala".
Nama karakter-karakter saya pun awalnya terinspirasi dari nama-nama barat. Nama tokoh utama saya awalnya adalah Anne Wilson, mengambil dari nama seorang artis rohani yang sempat saya kagumi lagu-lagunya. Tokoh Karles Kester awalnya bernama Charles Chesterton. Nama tokoh ini saya adapatasi dari nama kucing dalam Alice in Wonderland, kucing Cheshire. Dan masih banyak lagi.
Sekalipun inspirasi utama saya adalah iman Kristen, tetapi saya tidak mau terlalu unsur-unsur kekristenan terlalu mencolok dalam cerita saya. Malahan, inspirasi lainnya bagi cerita saya adalah dari game Assassin's Creed. Saya menyukai ide sebuah kelompok rahasia yang bertugas untuk membunuh demi mencapai suatu tujuan tertentu. Ide inilah yang menginspirasi saya untuk menjadikan Lokapala sebagai kelompok rahasia (tadinya sebagai kelompok superhero seperti Teen Titans).
Masih banyak lagi cerita-cerita entah itu dari film, kartun, buku, atau media-media lainnya yang saya campurkan ke dalam kuali novel saya. Saya harap novel ini dapat menghibur dan membawa Anda bertualang bersama Ani dan anggota Lokapala lainnya. Apa pun agama Anda, ras, atau suku Anda, buku ini untuk Anda melihat dunia baru, dunia yang sama dengan dunia kita, namun jauh berbeda.
Link membaca "LOKAPALA: PEMBERIAN SANG RAJA"
Wattpad
Karyakarsa